Be the Best! Jadi Manusia Paling Bermanfaat
"Tangan di atas, itu lebih baik daripada tangan di bawah" (HR. Bukhari)
Ketika membaca sebuah buku penuh inspirasi yang ditulis oleh guru saya, Prof. Laode Kamaluddin Ph. D., "Rahasia Bisnis Rasulullah", ingin sekali saya membaginya dengan siapa saja yang merasa dirinya umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (lihat QS Ali Imran :110). Mari, kita renungkan arti kehadiran kita di muka bumi ini, mengapa kita memiliki banyak sekali harapan dan impian…
Nah, pertanyaan apa yang dilontarkan Prof. Laode dalam bukunya, yang mampu membuat saya dan mungkin sahabat-sahabat saya yang lain juga tertegun beberapa saat karena malu, karena terkadang orientasi hidup sudah mulai kemana-mana, tidak pada porosnya lagi. Memang benar jika ada sebuah teori yang mengatakan, bahwa mempertahankan motivasi lebih sulit daripada menciptakannya, begitu juga dengan tujuan-tujuan dalam hidup, lebih sulit untuk berkomitmen terhadapnya. Ini dia pertanyaan prof. Laode…
Dari kecil hingga dewasa, berapa banyak waktu yang kita habiskan di bangku sekolah, bertahun-tahun kita rela mengorbankan banyak hal demi mempelajari beraneka macam pengetahuan. Pernahkah terlintas pertanyaan, buat apa kita lakukan semua itu?
Kini, setelah kita benar-benar dewasa, kita lepas dari orang tua kita, kita rela menghabiskan banyak sekali waktu untuk pekerjaan, bahkan dari pagi hingga malam hari, bekerja dan terus bekerja. Pernahkah kita berpikir, apa sesungguhnya yang kita cari dari semua itu?
Selain bekerja, tak lupa kita menjalankan ibadah, rajin sholat, puasa di bulan Ramadhan atau pun amalan lainnya, mengapa kita rela melakukan semua itu?
Tiga pertanyaansudah terlontar, mari kita cari bersama jawabannya…
Mari kita renungkan satu persatu jawabannya, kita pahami kata perkata, semoga jawaban kita, walaupun berbeda, tidak jauh melenceng ya:)
Ilmu pengetahuan kita cari dari kecil hingga besar, aneka ragam ilmu pengetahuan telah kita pelajari, semua itu kita lakukan agar kita pintar. Mengapa? karena denga kepintaran kita itulah kita akan mudah meraih sesuatu, mudahmendapat pekerjaan, dan kemudahan-kemudahan lain.
Memang apa pentingnya pekerjaan sehingga kita perlu persiapan yang lama dengan belajar yang hampir lebih dari hidup kita kita habiskan untuk belajar.karena dengan pekerjaan kita mendapatkan apa yang dengannya kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.Mengapa kita berorientasi pada keinginan-keinginan…? Karena dengan tercapainya keinginan itu membuat kita gembira, kita ingin senang, ingin bahagia, di dunia dan akhirat kelak, dan kesenangan di akhirat akan dapat kita capai kalau kita memperoleh ridho-Nya, yaitu dengan memiliki banyak amal saleh, menjlankan perintah dan menjauhi larangannya.
Senang, gembira, bahagia, menikmati hidup, itulah yang diimpikan setiap orang. Dunia dan akhirat. Semua yang kita lakukan, kemaren,hari ini, dan esok, kita lakukan karena orientasi kebahagiaan yang ingin kita capai. Sayang, ketika kita mulai sibuk bekerja, mengumpulkan materi yang begitu banyak, kebahagiaan itu tak juga didapat. Sehingga terkadang kita mulai frustasi dan putus asa. Hari-hari cerah pun mulai berganti dengan kekecewaan.
Sering orang menyangka, kebahagiaan senantiasa terkait dengan banyaknya limpahan materi, tingginya jabatan, terkenal, karenanya, begitu banyak orang yang menghabiskan waktu untuk mengejar semua itu. Pagi sekali, para eksekutifperkotaan telah meninggalkan rumah mereka dan hingga larut malam baru kembali keperaduan. Begitu seterusnya. Uang berlimpah, rumah megah, akhirnya berada dalam genggaman.
Dan, sangkaan ini ternyata salah
Ternyata banyak orang-orang kaya yang tidak bahagia. Banyak orang-orang berpangkat tinggi memiliki kehidupan yang menyedihkan, meskipun mempunyai harta banyak, mereka tidak memiliki kesempatan untuk sekadar bersenang-sendang dengan harta yang mereka cari karena padatnya waktu mereka dalam bekerja.
bahkan lebih kasihan lagi, orang-orang kaya itu banyak yang terjangkit penyakit, hanya makanan-makanan tertentu saja yang dapat dikonsumsi. Sebaliknya , kita bisa dapati orang-orang biasa yang tinggal di pedesaan, hidup sangat sederhana, tapi penuh kebahagiaan.
"Kebahagiaan sesungguhnya bukanlah terletak pada suatu yang di luar pada diri kita, tapi kebahagiaan ada di dalam diri kita sendiri…" Subhanallah…
Ternyata kebahagiaan itu dekat…sekali dengan kita, tidak perlu jauh-jauh kita mencarinya.Seseorang yang tinggal di gubuk reot yang bersyukur dan menikmati keadaannya pasti lebih bahagia dibandingkan seorang eksekutif muda yang tinggal di rumah megah , tapi selalu merasa bahwa ia dalam kekurangan.
Kebahagiaan sesungguhnya adalah cara memandang dan cara bertindak. Siapa yang memandang dengan cinta, maka pastilah semua akan tampak indah, tapi siapa yang memandang dengan kebencian,semua pasti akan tampak seperti neraka.Ketika memandangdengan penuh cinta, maka seluruh perilaku kita pun akan mencerminkan perasaan cinta itu.kala bertemu dengan orang lain, begitu mudah kita menebarkan senyum. Ketika melihat saudara kita sedangdalam kesulitan, begitu mudah kita member perolongan. Orang-orang merasa nyaman dengan perlakuan kita, dan seperti halnya kita memperlakukan mereka dengan cinta, mereka juga akan memperlakukan kita dengan hal yang sama. Sebesar apa kualitas cinta yangengkau berikan, maka sebesar itulah kebahagiaan yang engkau peroleh, bahkan mungkin berlebih.
Maka benar apa yang telah Rasulullah saw sampaikan kepada kita, umatnya, "sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain".
Sesungguhnya kebahagiaan adalah pantulan atas apa yang kita lakukan. Semakin banyak kita berbuat bagi orang lain, semakin besarpula usaha oranglain untuk melakukan sesuatu bagi kita, semakin sering kita memberikan pertolongan,semakin banyak orang yangingin memberikan pertolongan kepada kita manakala kesusahan datang.
Semakin sering orang mengajarkan ilmu yang ia miliki,semakin pandai dirinya. Pun orang yang bersedia mencarikan pekerjaan bagi orang lain, sesungguhnya sedang menanamkan investasi, karena kelak jika waktunya tiba, yaitu ketika cobaan datang kepada kita, maka merekalah orang yang pertama-tama menawarkan dirinya untuk memberikan pertolongan kepada kita.
Itulah inti dari ilmu bisnis sesungguhnya. Itulah inti dari segala rahasia bisnis Rasulullah. Menjadi yang terbaik dengan menjadi manusia yang paling banyak meberi manfaat pada orang lain. Inti dari ilmu bisnis adalah memuaskan kebutuhan konsumen, dan itu berarti kita sedang mempersiapkan diri untuk melakukan yang terbaik pada orang lain.
